Skip to main content
Spotify for Podcasters
PRCi Podcast

PRCi Podcast

By PRC | Initiative

PRCi Podcast adalah sebuah wadah diskusi untuk berbagi ide gagasan, saling bertukar pikiran terkait permasalahan pemerintahan, lingkungan, ekonomi, maupun perkembangan sosial budaya yang ada di masyarakat.

Visi kami menjadi ruang berekspresi, ruang berpendapat, juga bisa menjadi media untuk menyuarakan aspirasi, serta mengkampanyekan inovasi literasi, dan praktek-praktek baik yang berkembang di daerah atau di masyarakat.
Listen on Spotify
Available on
Google Podcasts Logo
Pocket Casts Logo
RadioPublic Logo
Spotify Logo
Currently playing episode

Eps. 13 Mengenal Riset Pasar dalam Dunia Industri

PRCi PodcastAug 21, 2021

00:00
53:29
Eps. 13 Mengenal Riset Pasar dalam Dunia Industri

Eps. 13 Mengenal Riset Pasar dalam Dunia Industri

Jika diperhatikan secara seksama, berbagai iklan promosi suatu produk industri bisnis, selalu memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Bentuk keunikan, kekhasan ini memang sengaja dibikin, agar informasi maupun pesan promosi lebih 'mengena', konsumen jadi memiliki pengetahuan yang utuh, "cetho welo-welo" mengenai produk yang diiklankan tersebut. 

Bahkan, terkadang secara tidak sadar, konsumen diarahkan agar jadi percaya, tersugesti hingga tak bisa berpaling dengan produk lain. Contohnya, iklan teh SariWangi yang sering muncul di Tv, dimana dalam salah satu iklannya digambarkan ada seorang yang ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada orang lain namun merasa bimbang, hingga akhirnya muncul ide untuk mengajak 'ngeteh' dulu. 

Persepsi dan sugesti yang dibangun dalam iklan teh ini, bahwa seorang yang akan memulai obrolan penting bersama keluarga atau teman, terlebih dulu perlu membangun suasana keakraban dengan cara 'ngeteh' SariWangi lebih dulu. Iklan ini menonjolkan tentang arti "berani bicara" dan perlunya suasana yang tepat untuk "saatnya bicara". 

Sisi unik dari iklan suatu produk juga nampak dari slogan atau semiotika bahasa yang dipakai. Misalnya, slogan beberapa merk rokok ternama; "Go Ahead", "Bukan Basa Basi" (A Mild), "Yang Penting Hepii" (Djarum76), "Buktikan Merahmu" (Gudang Garam Merah), "Hidup Gue Cara Gue" (Apache) dan lain-lain. 

Mengapa digambarkan demikian? Apakah pesan dalam iklan tersebut bisa mempengaruhi pemirsa? 

Yups. Dalam dunia industri bisnis, ada kegiatan yang dikenal dengan istilah riset pasar atau dalam bahasa lain disebut riset pemasaran (marketing research). Kegiatan riset pasar ini bisa dilakukan sendiri oleh perusahaan, tapi untuk perusahaan ternama biasanya mereka menyewa agency atau perusahaan jasa yang memang khusus bergerak di bidang riset pasar. Agency inilah yang akan melakukan riset untuk menggali persepsi ataupun pengetahuan publik soal produk maupun kecenderungan-kecenderungan masyarakat terkait kebutuhan tertentu yang bisa dikreasikan dalam suatu bentuk produk hingga bentuk iklan pemasarannya. Melalui riset pasar perusahaan bisa mengetahui kebutuhan masyarakat (konsumen), menentukan target pasar, menciptakan Trend Setter serta membangun kesan-persepsi publik yang positif terhadap produk yang ditawarkan. 

Dan saat ini, seiring makin banyak pertumbuhan industri di daerah-daerah, seperti Bojonegoro dan sekitarnya, baik dalam bentuk industri kecil menengah maupun industri besar, maka tidak menutup kemungkinan kebutuhan jasa riset pasar di daerah menjadi suatu keniscayaan. Misalnya untuk kebutuhan branding produk-produk IKM (Industri Kecil dan Menengah), maupun branding wisata desa yang mulai bergeliat di daerah. Sehingga produk IKM maupun wisata desa di daerah jadi makin dikenal, menjaring konsumen dan pasar yang makin kompetitif. 

Nah, PRCi Podcast Episode 13 ini, kami menghadirkan salah seorang yang sudah malang melintang selama kurang lebih 10 tahun dalam dunia riset pasar atau marketing research (riset pemasaran); yakni Sdri. Dita Hana Farida. Sebelum menggeluti dan menjadi expert dalam dunia riset pasar, narasumber kita yang berkantor di Jakarta ini juga sempat menjadi seorang jurnalis dan pegiat "Sindikat Baca", sebuah komunitas literasi di Bojonegoro. Karenanya, selain membincang tema mengenai riset pasar, juga bakal 'ngobrolin' tentang dunia literasi yg digelutinya hingga saat ini. Bincang-bincang kali ini akan dibersamai oleh Bung Tulus Adarrma, selaku Host. 

Selamat mendengarkan..

Aug 21, 202153:29
Eps. 12 Dunia Perkopian di Bojonegoro; dari Pergulatan Batin hingga Proses Kreatif Berdirinya Kopi Tani

Eps. 12 Dunia Perkopian di Bojonegoro; dari Pergulatan Batin hingga Proses Kreatif Berdirinya Kopi Tani

Nampak pepohonan dan bunga-bunga indah mengelilingi segenap sisi bangunan, yang mirip sebuah rumah sederhana. Kursi-kursi tertata rapi, sebagian terbuat dari kayu-kayu bekas, sedang yang lain seperti kursi yang terbuat dari bekas bak cat, yang disusun rapi nan artistik. di beberapa sudut teras, ada beberapa lukisan dan seni intalasi, yang hampir semuanya seperti menggambarkan potret pertanian.

Saat masuk ke dalam, maka mata anda akan dibuat takjub. Di setiap dinding-dinding ruangan tergantung dan tertempel banyak lukisan yang menambah kesan artistik ruangan. Akuarium mungil, meja tua, TV bekas, dan nampak juga beberapa buku seni rupa yang tertata di salah satu pojok ruangan.

Dinding-dinding ruangan tidak ada yang ber-cat. Sepertinya, sengaja dibiarkan saja dengan hanya lapisan (acian) semen yang tidak terlalu halus. Bahkan ada sebagian dinding yang terlihat batu batanya. Nampak klasik nan eksotis. Sehingga tidak jarang ditemui, beberapa orang melakukan poto selfi melalui kamera Smartphone mereka dengan mengambil background lukisan ataupun dinding ruangan tersebut.
Ya. Inilah sedikit gambaran angkringan "Kopi Tani" yang terletak di Kelurahan Klangon-Bojonegoro. Sebuah usaha angkringan yang menjual kopi dan minuman lainnya, serta berbagai makanan-makanan khas bakaran. Secara kasat mata, memang yang terlihat sebagaimana umumnya angkringan, menjual makan minum, tapi jika diselami, maka anda akan memasakan seperti dibawa pada sebuah dunia yang luas, penuh kreativitas dan imajinasi. Seperti ada semacam bentuk ekspresi ataupun bentuk spirit moral, atau yang sarat akan makna dan pesan yang disematkan pada semua aksesoris yang ada di Kopi Tani.
Pada sebuah kaca, terdapat tulisan yang ditulis dengan menggunakan cat putih; "Mari bicata dengan HATI, bukan dengan WIFI," dan dibawahnya ada lukisan sepasang petani laki-laki dan petani perempuan sedang tertawa penuh riang gembira.
Nah, ​​​​​​​PRCi Podcast episode ke-12 ini, akan ngobrol-ngobol dengan inisiator dan owner Angkringan Kopi Tani, yakni Mas Dwi Putra Puguh Pambudi. Topik obrolan kali ini terkait dunia perkopian di Bojonegoro, hingga cerita proses kreatif berdiringan Angkringan Kopi Tani, yang selalu ramai pengunjung. Tidak hanya untuk ngopi atau makan minum, tetapi juga berdiskusi, pameran dan lainya. Seperti biasa, obrolan akan dipandu oleh Sdr. Tulus Adarrma, selaku Host.
Selamat mendengarkan..
Jul 23, 202157:54
Eps 11 Ngobrol Tentang Paradigma dan Penerapan Ekologi-Landskap dalam Pembangunan Daerah

Eps 11 Ngobrol Tentang Paradigma dan Penerapan Ekologi-Landskap dalam Pembangunan Daerah

Ini berangkat dari sebuah keresahaan. Ketika akhir-akhir ini banyak hal-hal yang menakutkan terjadi di sekeliling kita. Bencana alam, secara berturut-turut, terjadi di mana-mana. Misalnya, suhu bumi meningkat, hingga menyebabkan orang-orang mulai merasakan cuaca panas, gerah yang cukup ekstrim di siang hari. 


Selain itu, dewasa ini berbagai bencana alam juga terjadi di banyak tempat di belahan bumi, termasuk di Indonesia. Seperti intensitas hujan yang sangat ekstrim, hingga menyebabkan banjir bandang serta tanah longsor terjadi di mana-mana - yang banyak menelan  korban jiwa, serta menyebabkan kerugian material maupun immaterial yang cukup besar.


Banyaknya bencana alam yang terjadi, disinyalir disebabkan perubahan iklim, sehingga berpengaruh pada perubahan pada suhu, curah hujan, pola angin dan berbagai efek-efek lain secara ekstrim. Kondisi cuaca ekstrim, yang makin sulit diprediksi ini memberi dampak buruk pada sektor pangan-pertanian. Sebab, kondisi cuaca ekstrim yang makin sulit diprediksi, membuat para petani kita mengalami kesulitan dalam mengkalkulasi ataupun mengira-ngira jenis tanaman apa yang cocok ditanam, sesuai karekteristik jenis tanaman dengan kondisi cuacanya. 


Akibatnya, banyak para petani kita mengalami gagal panen. Tentu saja, jika kondisi ini terjadi terus-menerus, maka tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan Krisis pangan. Apalagi populasi penduduk terus meningkat sehingga kebutuhan pangan pun semakin meningkat.


Lalu, mengapa terjadi perubahan iklim? Perubahan iklim terjadi banyak disebabkan oleh aktivitas manusia yang merusak lingkungan atau ekosistem alam. Seperti penebangan hutan atau penebangan pohon yang cukup marak tanpa diimbangi upaya perbaikan secara signifikan. Atau ada upaya yang dilakukan, tetapi kapasitas atau jenis pohon yang ditanam tidak sebanding dengan kapasitas pohon yang ditebang dalam hal kemampuan penyerapan karbondioksida atau kemampuan dalam menghasilkan oksigen.


Dalam konteks daerah, misal di Kabupaten Bojonegoro, yang menurut survei terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduknya makin meningkat. Misal di Kawasan perkotaan, kepadatan penduduk makin meningkat. Sehingga kebutuhan oksigen yang dibutuhkan pun pasti meningkat. Namun, kondisi ini justru berbalik dengan kapasitas ruang terbuka hijau atau jumlah pohon yang memilki kemampuan penyerapan karbondioksida tinggi, yang makin berkurang. Kondisi ini tentu saja perlu jadi perhatian semua pihak, agar pembangunan benar-benar memperhatikan lanskap-ekologi, karena kerusakan keseimbangan alam akan sangat berdampak serius terhadap lingkungan; mulai dari tingkat kesehatan, hingga tingkat kenyamanan ataupun kebahagiaan warga serta mahluk hidup lainnya.


Apalagi saat ini di banyak negara atau daerah yang sudah memiliki awareness terhadap isu lingkungan, sudah bergeliat. Pembangunan dengan konsep ramah lingkungan menjadi isu strategis dan mulai diperhatikan. Diantaranya reforestasi atau pengembalian kelestarian hutan, pembangunan ruang terbuka hijau; hutan kota atau forrest garden saat ini mulai banyak dilakukan. Banyak kalangan mulai sadar bahwa ekosistem lingkungan yang terjaga, lestari, bersih, teduh dengan udara segar dan air yang bersih, menjadi salah satu kebutuhan utama yang tidak bisa diabaikan.


Nah. PRCi Podcast episode ke-11 ini, menghadirkan salah seorang pegiat lingkungan, yang memiliki pembacaan yang cukup luas terkait paradigma lingkungan ataupun berkaitan dengan Landscape Ecology atau Ekologi Lanskap; yakni Sdr. Usfri Rarandra. Obrolan kali ini akan dipandu oleh Aw. Syaiful Huda sebagi Host.


Selamat mendengarkan..






Jul 10, 202151:57
Eps. 10 Ngobrol Tentang Idealisme dan Proses Kreatif Kelompok Musik 'Thuthak Thuthuk Gathuk'

Eps. 10 Ngobrol Tentang Idealisme dan Proses Kreatif Kelompok Musik 'Thuthak Thuthuk Gathuk'

sungai mengalir, mengalir ke samudera
bongkahan batu-batuan kehidupan

rajang, pecahkanlah
betapa kamu perkasa..

sungai yang jernih,
bawa segala suka dan duka; sama
mengalir deraslah,
bawa air-air matanya ke muara..

Demikian lirik lagu Sungai, karya Thuthak Thuthuk Gathuk(disingkat TTG), sebuah kelompok musik kontemporer asal Bojonegoro. Jika direnungkan, lirik lagu "Sungai" di atas penuh sarat makna, yang memberi banyak pelajaran tentang arti kehidupan. “sungai yang jernih,” merepresentasikan pikiran dan hati yang bersih nan bening. Melalui pikiran dan hati yang jernih ini, seseorang akan tetap tenang, optimis dalam melangkah, mengarungi bahtera kehidupan yang penuh tantangan, ujian dan cobaan – yang penuh kerikil-kerikil tajam, bongkahan bebatuan besar yang kokoh menghadang, sehingga menimbulkan suara riak air yang melewatinya.

“bawa segala suka dan duka; sama”. Rasa duka; kesedihan dan suka cita ataupun kebahagiaan, semua sama-sama memiliki makna berarti dalam kehidupan seseorang. Kebahagiaan dan kesedihan yang pernah dirasakan, akan memupuk pengalaman batin yang tak ternilai, menempa dan membentuk kedewasaan seseorang. Oleh karenanya, bagi orang yang sudah mampu menyelami dan memahami siklus ini, alias Waskito, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang kuat lahir dan batin. Seperti digambarkan pada lirik; “rajang, pecahkanlah. betapa kamu perkasa..”. Ia tetap bisa bergembira saat bersedih, dan bisa bersedih saat bergembira. Terhadap segala kesedihan, ia mampu berucap; “mengalir deraslah, bawa air-air matanya ke muara”. Adapun "muara", ibarat sebuah perjalanan, ia adalah akhir dari segenap kehidupan, perhentian terakhir.

***
Dalam konteks sosial-budaya, sungai memiliki hubungan erat dengan sejarah perkembangan peradaban manusia. Banyak peradaban besar di dunia lahir dan tumbuh berdekatan dengan sungai. Termasuk peradaban Nusantara, seperti Sriwijaya dan Mataram. Sungai juga memiliki peran strategis dalam sektor pertanian dan sektor perdagangan. Namun sayangnya, kondisi sungai-sungai di Indonesia saat ini banyak yang memperihatinkan. Banyak sungai yang tercemari berbagai limbah, baik limbah industri ataupun limbah rumah tangga.

Nah, PRCi Podcat episode ke-10 ini, akan berbincang-bincang dengan perwakilan kelompok musik Thuthak Thuthuk Gathuk (TTG). Yakni Mas Oki Dwi Cahyo (Vokalis) dan Mas Radinal Ramadhana (Gitaris). Dalam obrolan ini akan membincang berbagai hal, seperti proses kreatif hingga nilai-nilai dan idealisme kelompok musik ini dalam berkarya. Karena, semua lagu-lagu kelompok musik TTG ini berbicara tentang lingkungan, termasuk di dalamnya mengandung isu sosial-budaya dan ekonomi. Melalui lirik-lirik lagu  yang puiti dan aransemen musik yang cukup unik, sepertinya kelompok musik TTG ini ingin mengajak bicara pada kita semua, agar kita tergerak bersama membangun harmoni dengan alam; hutan, sungai, air, udara, biota dan tumbuhan.

Jangan salah sangka. Bahwa bahasa musik terkadang melampui kata-kata biasa. Ia sangat halus, Bahkan seandainya musik menusuk relung hatimu, kau takkan merasakan rasa sakit. Seorang sastrawan besar, Paulo Coelho, mengatakan, "Musik adalah ideologi. Kau dapat menilai seseorang dari jenis musik yang mereka dengar".

Selamat mendengarkan..

Jul 05, 202146:11
Eps. 09 Ngobrol Tentang Hukum dan Perkembangan Demokrasi Indonesia Saat Ini

Eps. 09 Ngobrol Tentang Hukum dan Perkembangan Demokrasi Indonesia Saat Ini

“Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan; dijahati atau menjahati,” demikian kalimat kutipan dari buku Anak Semua Bangsa, karya Pramodya Ananta Toer, seorang sastrawan Indonesia yang pernah masuk nominasi peraih Nobel Sastra.

Kutipan ini, sepertinya cukup relevan jadi bahan pengantar untuk membuka ruang refleksi dan ruang diskusi kita semua; merespon berbagai fenomena yang berkembang di Indonesia belakangan ini. Mulai dari dinamika sosial-ekonomi, hukum dan politik, hingga menyoal demokratisasi yang stagnan, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Sesuai laporan The Economist Intelligence Unit (EIU), yang merilis skor Indeks Demokrasi Indonesia pada tahun 2020 sebesar 6.30 poin, turun dibanding tahun sebelumnya, dengan skor 6.48 poin.


Skor Indeks Demokrasi di tahun 2020 ini, merupakan skor terendah Indonesia dalam kurun waktu 14 tahun terakhir. Dari 4 (empat) kategori, yaitu demokrasi penuh (full democracies), demokrasi belum sempurna (flawed democracy), rezim hibrida (hybrid regimes), dan rezim otoritarian (authoritarian regimes), Indonesia masih senantiasa masuk dalam kategori negara demokrasi yang belum sempurna (flawed democracies). Secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari 167 negara yang dinilai. Sedangkan untuk kawasan Asia Tenggara, peringkat Indonesia berada di bawah Malaysia, Timor Leste dan Filipina.


Ada beberapa fator yang menyebabkan Indeks Demokrasi Indonesia menurun. Diantaranya persoalan kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dinilai mulai terancam, persoalan penegakan hukum yang belum membaik, pelemahan pemberantasan korupsi, hingga persoalan penguatan oligarki politik, dan lain sebagainya.


Untuk persoalan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang justru dianggap lebih banyak memakan korban masyarakat biasa. Sebagaimana laporan Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) yang mencatat, sejak 2008-2018, UU ITE lebih banyak digunakan oleh pejabat negara sebagai pihak pelapor, sekitar 35.92%, termasuk di dalamnya adalah kepala daerah, kepala instansi/departemen, menteri, dan aparat keamanan. Sementara pelapor dari pihak awam hanya sekitar 32.24%.


Demikian juga yang jadi pihak terlapor, mayoritas adalah masyarakat awam (29,4%), lalu aktivis (8,2%), pelajar dan mahasiswa (6,5%), guru dan dosen (6,1%), dan jurnalis (5,3%). Sementara pihak terlapor dari kalangan pejabat, aparat keamanan dan anggota partai sangat lah kecil, untuk masing-masing angkanya tidak sampai di atas 2%. Fakta ini tentu saja menggambarkan kondisi yang paradoks. UU ITE yang pada awalnya diinisiasi dan dirumuskan untuk melindungi warga masyarakat, terutama berkaitan dengan kejahatan dunia maya (Cyber Law), malah justru jadi momok bagi masyarakat sipil, karena adanya beberapa 'Pasal Karet' yang menimbulkan multitafsir dan lebih banyak menjerat masyarakat awam.


Nah,
episode PRCi Podcast ke-09 ini menghadirkan Mas Muhammad Roqib, biasa dipanggil Mas Roqib, ia seorang dosen hukum tata negara di Universitas Muhammadiyah Gresik. Saat ini ia juga masih tercatat sebagai Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro. Tema obrolan kali ini seputar hukum, perkembangan demokrasi Indonesia, hingga cerita pengalaman narasumber sebagai jurnalis dan akademisi. Topik ini dipilih agar menambah referensi ataupun wawasan kita soal hukum, serta soal perkembangan dan tantangan demokrasi Indonesia saat ini. Dan ini juga bisa dibilang bagian dari upaya memahami dan bersetia pada 'azaz' (asas), sebagaimana disinggung dalam kutipan di atas.

Selamat mendengarkan...

Jul 04, 202101:10:45
Eps. 08 Ngobrol Tentang Radio, Mulai dari Keintiman hingga Penggemar Beratnya

Eps. 08 Ngobrol Tentang Radio, Mulai dari Keintiman hingga Penggemar Beratnya

“Lewat radio aku sampaikan..Kerinduan yang lama terpendam..,” begitu sepotong lirik lagu Sheila on 7 yang berjudul Radio. Ya. Lagu ini bisa menggambarkan radio sebagai sesuatu yang unik. Ia bukan hanya sekedar media menyampaikan dan menerima pesan, bukan hanya hiburan pengisi waktu luang. Lebih dari itu. Ia bisa menjembatani perasaan dan ungkapan-ungkapan hati yang mungkin sulit disampaikan secara langsung.


Jika merunut sejarah kemerdekaan Indonesia, media radio memiliki peran yang sangat berarti. Arek nom-nom yang pada saat itu memiliki tekad besar untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari cengkeraman imperialisme dan koloanilisme, melalui pesawat radio mereka tahu, jika Jepang yang menjajah Indonesia kala itu, telah kalah telak dalam perang melawan negara sekutu. Sehingga golongan arek nom-nom (seperti Sutan Syahrir, dkk) ini memandang bahwa saat itu adalah momentum yang tepat untuk mengambil sikap. Mereka mendesak para pemimpin pergerakan nasional, seperti Soekarno, Hatta dan lainnya, untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.


Kini, usia kemerdekaan Indonesia sudah menginjak ke-76 tahun. Eksistensi radio masih bertahan, menemani ruang dengar para penggunanya. Seakan ia tidak lekang oleh dimensi waktu, meskipun era digital menyerang dan banyak menggantikan media-media konvensional. Radio hingga kini tetap bertahan dan masih ada dalam ruang hati masyarakat, meskipun tetap harus berkreasi, membuat terobosan-terobosan guna mengimbangi perkembangan jaman. Misal, dewasa ini banyak Radio Streaming berbasis internet pun mulai tumbuh bermunculan, untuk tetap eksis dan hadir menemani pemirsanya.


Menurut Iwan Siswoyo, seorang penyiar radio yang sudah senior di Bojonegoro, mengatakan bahwa media radio memiliki keunikan tersendiri dibanding media komunikasi dan informasi lainnya. Ia lebih memiliki keintiman tersendiri dengan para pendengarnya. Keintiman inilah yang kemudian menciptakan fans berat di antara para pendengar radio. Selain itu, penyiar radio yang memiliki hobi bertani ini juga mengungkapkan, jika masyarakat Bojonegoro masih banyak yang mendengarkan radio. Terutama masyarakat pedesaan. Mereka bekerja dan beraktifitas sembari mendengarkan radio.


Peneliti Poverty Resource Center Initiative (PRCi), Aw Syaiful Huda, memandang radio bisa jadi media yang efektif untuk mengkampanyekan kesadaran hidup sehat masyarakat Bojonegoro. Ia menyebut, berdasarkan data Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2018, nilai Indeks Perilaku Kesehatan Kabupaten Bojonegoro masih cukup rendah, sebesar 0.4853 poin, berada diperingkat ke-26 dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Karenanya, ia memandang perlu upaya mendorong kebijakan kesehatan di daerah agar lebih memprioritaskan program-kegiatan yang bersifat preventif, melalui kegiatan edukasi dan mempromosikan perilaku hidup sehat. Salah satu sarana komunikasinya, bisa lewat media radio. 


Nah, episode PRCi Podcast kali ini akan ngobrol-ngobrol dengan Mas Iwan Siswoyo tentang dunia Broadcast; Radio. Terutama yang berkaitan dengan keunikan, pengaruh hingga tantangan radio di era saat ini. Dimana dunia ICT (Information and Communication Technology) makin berkembang pesat, merambah sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dan seperti biasa, obrolan kali ini akan ditemani oleh Mas Tulus Adarrma, selaku Host.


Selamat mendengarkan..





Jul 03, 202146:04
Eps. 07 Ngobrol Tentang Media Sosial, Content Creator dan Geliat Industri Kreatif di Bojonegoro

Eps. 07 Ngobrol Tentang Media Sosial, Content Creator dan Geliat Industri Kreatif di Bojonegoro

Dewasa ini, media sosial menjadi bahan perbincangan oleh banyak kalangan. Terutama yang berkaitan dengan pengaruh media sosial terhadap berbagai aspek-aspek yang ada di masyarakat. Mulai dari dampak media sosial dalam pembentukan perilaku ataupun gaya hidup, hingga pengaruhnya terhadap aspek ideologi, ekonomi dan politik masyarakat.

Apalagi adanya fenomena penggunaan Artificial Intelligence (AI) oleh industri media sosial, yang mampu membaca, menganalisis perilaku dan kecenderungan para penggunanya. Sehingga melalui kemampuan AI tersebut, algoritma pada masing-masing platform media sosial mampu membaca kecenderungan hingga kemauan para penggunanya. Dari pembacaan atau analisis AI tersebut dimanfaatkan untuk pemasaran produk-produk komersil tertentu secara otomatis, bahkan para penggunanya pun tidak menyadarinya.

Bahkan ada film berjudul the Social Dilemma, yang banyak mengulas dampak-dampak negatif media sosial. Seperti ekploitasi para penggunanya untuk kepentigan komersial/financial, meningkatnya polarisasi yang berbasis ideologi dan politik, serta manipulasi kecenderungan atau orientasi tertentu, seperti soal kebahagiaan, mode, dll.

Oleh karenanya, dilematika fenomena media sosial ini pun makin menyedot banyak perhatian kalangan. Apalagi dilihat dari jumlah pengguna media sosial makin hari makin bertambah terus. Menurut data We Are Social, jumlah pengguna media sosial di seluruh dunia, terus meningkat setiap tahun. Pada Januari 2021, angkanya mencapai 4,2 miliar atau tumbuh 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

We Are Social juga mencatat, Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang kecanduan media sosial, berada di peringkat ke-9 dari 47 negara yang diteliti. Jumlah masyarkat Indoensia yang menjadi pengguna aktif media sosial mencapai 170 juta jiwa, sekitar 61.8 persen dari total populasi penduduknya di tahun 2021.

Nah, episode PRCi Podcast kali ini menghadirkan salah seorang pemuda yang cukup aktif menekuni dunia digital, conten creative, serta media sosial; Mas Radinal Ramadana. Pemuda yang juga seorang jurnalis Jurnaba.co ini pernah mengikuti dan berperan aktif dalam industry kreatif di daerah. Topik obrolan kali ini juga tidak jauh terkait dunia media sosial dan creative content, mulai dari potensi industri kreatif, hingga pengaruh dan dampak media sosial terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Radinal akan dimani oleh Mas Tulus Adarrma selaku Host.

Selamat mendengarkan...

Jun 29, 202142:42
Eps. 06 Ngobrol; Makin Digemari, Apa yang Menarik dari Podcast?

Eps. 06 Ngobrol; Makin Digemari, Apa yang Menarik dari Podcast?

Masyarakat Indonesia dewasa ini sudah banyak yang menggunakan Podcast.Yakni sebuah platformatau media komunikasi dan informasi yang berbasis internet, dalam bentuk audio, meskipun sekarang juga sudah ada versi video-nya (Ia mirip radio, tapi ada perbedaanya).

Berdasarkan hasil penelitian DailySocial tahun 2018, dari sejumlah responden masyarakat Indonesia yang disurvei, sebanyak 43 persen mereka menyatakan sangat tertarik mendengarkan Podcast, sedang separuhnya menjawab ragu-ragu. Hasil studi ini juga menunjukkan, pengguna atau pendengar Podcast di Indonesia kebanyakan adalah kaum milenial. Yakni sebanyak 42.12 persen umur 20-25 tahun, lalu sisanya umur 26-29 tahun dan 30-35 tahun.

Alasan mendengarkan Podcast pun sangat variatif. Tetapi yang paling banyak, mereka menganggap Podcast sebagai media komunikasi dan informasi yang sangat fleksibel. Bisa dinikmati di manapun dan saat kapanpun, bahkan bisa sambil melakukan aktifitas yang lain. Misal, saat berkendara, baik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum, saat bersih-bersih rumah, lembur kerja, dan lain sebagainya.

Ada juga pendengar atau pendengar Podcast yang memiliki alasan khusus. Misal menjadikannya sebagai medium aktualisasi diri, seperti untuk meningkatkan kemampuan berfikir dan berbicara secara sistematis, meningkatkan kemampuan merespon dan menganalisis suatu peristiwa atau topik yang sedang trending. Ada juga yang menggunakan Podcast sebagai medium untuk berbagai (sharing) ilmu pengetahuan, ide gagasan, kreativitas, serta memanfaatkannya sebagai media sarana menyampaikan uneg-unegatau aspirasi.

Nah, dalam eposide kali ini, PRCi Podcast menghadirkan salah satu teman, seorang pegiat yang sudah lama menggunakan Podcast; Mas Alfian Condro Guritno, biasa dipanggil Alfian. Ia merupakan salah satu kreator/pegiat Podcast; Guneman. Mas Alfian akan dibersamai oleh Mas Tulus Adarrma sebagai Host dan Mas Aw. Syaiful Huda, pegiat dan peneliti PRCi. Mereka akan ngobrol-ngobrol seputar dunia per-Podcast-an, yang dewasa ini makin banyak digemari oleh banyak masyarakat Indonesia, berikut juga; pembelajaran apa yang bisa kita petik dari fenomena Podcast ini?

Selamat mendengarkan..

Jun 26, 202101:02:44
Eps 05 Ngobrol Tentang Lingkungan, Hutan, Pertanian dan Politik Kesejahteraan di Bojonegoro

Eps 05 Ngobrol Tentang Lingkungan, Hutan, Pertanian dan Politik Kesejahteraan di Bojonegoro

Bojonegoro adalah salah satu kabupaten di Indonesia, yang memiliki potensi sumber daya yang melimpah, baik sumber daya alam terbarukan (Renewable), maupun sumber daya alam tak terbarukan (Unrenewable). Untuk jenis sumber daya terbarukan, Bojonegoro memiliki hutan yang cukup luas, sekitar 95.8 ribu hektar, menempati urutan terluas ke-4 di Jawa Timur.

Kabupaten yang sekarang dihuni sekitar 1.3 juta jiwa penduduk ini, kurang lebih 40% wilayahnya merupakan kawasan hutan, baik hutan produksi mapun hutan lindung. Bahkan jaman, terutama saat masa kolonial Belanda, Bojonegoro dikenal sebagai daerah penghasil komoditas kayu jati terbaik dunia, yang memiliki nilai ekspor tinggi.

Selain hutan, Bojonegoro juga dilalui aliran sungai Bengawan Solo, mulai dari wilayah paling barat hingga wilayah paling timur. Selain dilalui aliran sungai bengawan Solo, Bojonegoro juga memiliki sungai Kali Gandong. Kedua sungai ini tentu saja merupakan potensi sumber daya alam yang memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Diantaranya pemanfaatan air dari dua sungai tersebut untuk pertanian, suplai air PDAM, dan lain sebagainya.

Pada era sebelum kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Belanda juga membangun proyek irigasi berupa bendungan, kanal Solo Valley, yang sebenarnya memiliki fungsi pengendali banjir serta untuk meningkatkan sektor pertanian di wilayah selatan Bojonegoro.

Adapun potensi sumber daya alam yang tak terbarukan (Unrenewable) yang dimiliki Bojonegoro adalah minyak dan gas bumi. Ora baen-baen, Hingga saat ini Bojonegoro merupakan penyumbang lebih dari seperempat produksi minyak bumi dalam negeri. Selain potensi sumber daya minyak bumi, saat ini di Bojonegoro juga lagi ada pengembangan lapangan gas bumi Jambaran-Tiungbiru, yang memiliki kapasitas produksi mencapai 192 juta kaki kubik per hari (MMscfd).

Namun, meski memiliki banyak potensi sumber daya alam tersebut, tingkat kemiskinan di Bojnegoro masih cukup tinggi hingga saat ini. Demikian jga nilai Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index Kabupaten Bojonegoro masih sangat rendah, peringkat ke-26 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Nah, episode PRCi Podcast kali ini bakal ngobrol-ngobol terkait beberapa potensi dan persoalan di daerah. Mulai dari isu lingkungan yang meliputi, hutan, sungai dan pertanian, serta persoalan politik/kebijakan yang terkait dengan masalah kesejahteraan di daerah yang dikenal sebagai “Kota Ledre” ini.

Pada episode kali ini, hadir beberapa Narasumber yang akan menemani para pendengar PRCi Podcast. Yakni Mas Usfri Raranda (Pegiat lingkungan), Mas Puthut dan Mas Huda (Pegiat Ademos), serta akan dipandu Mas Aw. Syaiful Huda dari PRCi (Host).

Selamat mendengarkan..

Jun 25, 202101:16:05
Eps. 03 Ngobrolin Tentang Literasi Kebencanaan, Merespon Bencana Alam yang Marak Terjadi

Eps. 03 Ngobrolin Tentang Literasi Kebencanaan, Merespon Bencana Alam yang Marak Terjadi

Selain dirundung pandemi Covid-19, belakangan ini bencana alam juga gencar terjadi di Indonesia. Seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Maraknya bencana alam yang hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia tentu saja mengakibatkan kerugian, baik dari sisi materi maupun imateri.

Menanggapi peristiwa bencana yang sangat marak ini, menurut Nur Cholis, Ketua Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) Kabupaten Bojonegoro, diperlukan edukasi terhadap warga masyarakat terkait pemahaman dan kecapakan setiap orang terhadap bencana. Pria yang biasa dipanggil “Pak Cho” ini, mengatakan dalam siklus bencana ada tiga, yakni pra bencana, saat bencana dan paska bencana.

"Siklus saat bencana atau lebih dikenal dengan tanggap darurat, waktunya sangat pendek. Tapi lebih banyak mendapat atensi para pemangku kebijakan. Mestinya dalam bagian pra bencana dan paska bencanalah yang seharusnya lebih mendapat perhatian lebih. Misalnya tahap pra bencana dengan edukasi dan peningkatan literasi publik terkait kebencanaan juga dimasukkan melalui kurikulum pendidikan. Kurikulum renang misalnya, atau di Kepramukaan bisa dibentuk Saka Bahari," jelasnya.

Nah, PRCi Podcast episode kali ini menghadirkan Pak Cho - selaku Ketua FPBI Bojonegoro, untuk bincang-bincang tentang kebencanaan, terutama yang belakangan ini sering terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Selain Pak Cho, juga hadir Aw Syaiful Huda, peneliti PRCi, yang juga memiliki concern pada isu lingkungan dan kebencanaan. Obrolan Podcast (Host) dipandu oleh Sdr. Tulus Adarrma.

Selamat mendengarkan..

Jun 21, 202137:06
Eps.02 Ngobrolin Setahun Pandemi Covid-19, Sahabat Tuli Masih Terabaikan Haknya

Eps.02 Ngobrolin Setahun Pandemi Covid-19, Sahabat Tuli Masih Terabaikan Haknya

Pandemi Covid-19 sudah setahun melanda dunia. Hingga sampai saat ini, belum dipastikan kapan akan berakhir. Pandemi ini pun telah menginfeksi lebih dari 122 juta jiwa penduduk bumi. Lebih dari 2.7 juta orang meninggal dunia. Minimal ini adalah data yang ter-record. Kenyataan sebenarnya, bisa jauh lebih banyak lagi.

Selain berdampak buruk pada sektor kesehatan, pandemi ini juga telah memporak-porandakan tatanan dunia. Mulai dari ekonomi, pendidikan hingga tatanan sosial budaya masyarakat global pun terdampak dan dipaksa agar menjalani kenormalan baru - New Normal. Mulai dari cara dan bentuk-bentuk interaksi sosial ekonomi, bahkan beberapa praktek dari ritus agama pun harus menyesuaikan dengan kenormalan baru ini.

Tak terkecuali, sektor pemerintahan pun juga menyesuaikan kenormalan baru tersebut. Berbagai bentuk kegiatan pelayanan publik pun menerapkan protokoler kesehatan guna mencegah penyebaran Covid-19. Diantaranya penerapan pembatasan sosial, pemberlakuan wajib pakai masker, wajib jaga jarak, serta beragam bentuk-bentuk dari protokol kesehatan lainnya.

Namun disayangkan, dari penerapan kenormalan baru - New Normal - ini, ada yang luput dari perhatian banyak kalangan, terutama sebagian dari praktek pelayanan publik di lingkungan pemerintah. Dimana selama pandemi berlangsung, ada kelompok rentan yang banyak yang terabaikan hak-haknya. Terutama berkaitan dengan hak kesetaraan dalam pelayanan publik di lingkungan pemerintah. Ada salah seorang jurnalis telah menangkap fenomena permasalahan ini, serta berhasil membuat laporan khusus tentang potret diskriminasi dalam pelayanan publik, yang dialami oleh penyandang disabilitas-sobat Tuli, saat pandemi.

Nah, PRCi Podcast kali ini mencoba membincang berbagai bentuk-bentuk kesenjangan yang terjadi selama pandemi dalam bidang pelayanan publik, terutama bagi para penyandang disabilitas. Untuk tema obrolan ini, kami mengundang salah seorang jurnalis yang sangat memiliki interest terhadap isu-isu yang berkaitan dengan gender dan social inclusion, Sdr. Bagas Dhani Purwoko, seorang jurnalis Radar Bojonegoro, yang juga merupakan anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Bojonegoro serta seorang pegiat komunitas literasi "Guneman". Bagas, panggilan akrabnya, ini juga yang telah membuat liputan khusus tentang nasib sahabat Tuli di kala pandemi berlangsung. Obrolan Podcast ini dipandu Sdr. Tulus Adarrma (Host).

Selamat mendengarkan..

Mar 19, 202134:30
Eps.01 Ngobrolin Potensi dan Tantangan Pembangunan Kabupaten Bojonegoro

Eps.01 Ngobrolin Potensi dan Tantangan Pembangunan Kabupaten Bojonegoro

Kabupaten Bojonegoro salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya alam, berupa minyak dan gas bumi (migas), yang melimpah. Hingga saat ini, daerah yang dikenal dengan sebut “Kota Ledre” ini menjadi daerah penghasil migas terbesar di Indonesia.

Pada tahun 2020, nilai APBD Kabupaten Bojonegoro mencapai Rp 6.4 triliun, menempati kabupaten dengan nilai belanja daerah tertinggi nomor 3 (tiga) se-Indonesia. Besarnya nilai belanja daerah ini menjadi potensi dan modal pembangunan di daerah, dalam bentuk besarnya kemampuan belanja pembangunan yang jika dioptimalkan dapat mempercepat pembangunan di daerah. 

Kemampuan belanja pembangunan yang cukup besar ini, seyogyanya bisa digunakan untuk memaksimalkan sektor-sektor ekonomi basis masyarakat, seperti pertanian, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan lainnya. Termasuk melakukan percepatan penanggulangan kemiskinan, mengatasi tingkat pengangguran dengan menyiapkan kualitas sumber daya manusia anggkatan kerja di daerah, baik dalam aspek pendidikan, kesehatan, keterampilan (baik hard skill mapun soft skill) yang dibutuhkan dalam pasar kerja saat ini. Selain juga pentingnya upaya menumbuhkembangkan penciptaan lapangan kerja baru dan lainnya.

Berikut obrolan kami dalam Podcast Eps. 01, yang menghadirkan beberapa Narasumber yang berkompeten. Antara lain; 1). Sdr. Aw Syaiful Huda, seorang peneliti PRCI serta pegiat organisasi masyarkat sipil; 2). Sdr. Malik Ukay Subky, pengamat perkembangan masyarakat. Acara Podcast ini dipandu oleh Tulus Adarrma (Host), yang juga salah satu peneliti di PRCI. Perbincangan dalam Podcast ini berlangsung di Coffee EJCS (Eas Java Super Corridor) Bojonegoro

Yups! Selamat mendengarkan..

Mar 12, 202101:02:58